esay bahasa indonesia

 Nama : yanti laelasari 

Prodi : pendidikan guru sekolah dasar

semester : 3 (tiga)

Tema : berbahasa menggunakan pedoman umum ejaan bahasa indonesia di kalangan anak muda 


Latar belakang bahasa indonesia

Bahasa Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan sebagai bahasa nasional 

dan bahasa resmi negara Indonesia. Dalam berbahasa Indonesia, tentu tidak lepas 

dari  kaidah  dan  aturan  penggunaan  bahasa  yang  baik  dan  benar.  Kriteria  yang 

diperlukan dalam kaidah kebahasaan tersebut antara lain tata bunyi, tata bahasa, 

kosakata,  ejaan,  makna,  dan  kelogisan.  Bahasa  Indonesia  yang  baik  dan  benar 

mengacu pada ragam bahasa yang memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran, 

dan bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang sesuai kaidah baku, baik tertulis 

maupun lisan (Murtiani et al, 2016). 

  Sebelum  tahun  1900,  Indonesia  yang  sebagian  besar  penduduknya 

berbahasa Melayu, masih belum memiliki sistem ejaan yang dapat digunakan. Lalu 

seorang ahli bahasa dari Belanda, Prof. Charles van Ophuijsen bersama dua orang 

pakar  bahasa,  Engkoe  Nawawi  Soetan  Mamoer  dan  Moehammad  Thaib  Sutan 

Ibrahim membuat ejaan bahasa Melayu dengan menggabungkan dasar-dasar ejaan 

Latin  dan  ejaan  Belanda.  Ejaan  van  Ophuijsen  dianggap  kurang  berhasil 

dikarenakan kesulitan dalam memelayukan tulisan beberapa kata dari bahasa Arab 

yang memiliki warna bunyi bahasa khas. Namun, oleh van Ophuijsen, kesulitan 

tersebut terus  diperbaiki  dan disempurnakan,  sehingga pada  tahun  1926,  sistem 

ejaan menjadi bentuk yang tetap. Semenjak itu sistem ejaan terus berkembang dan 

disempurnakan,  muncul  Ejaan  Republik  atau  Ejaan  Soewandi,  kemudian  Ejaan 

Pembaharuan, Ejaan Melindo, lalu Ejaan Baru, Ejaan Rumi Bersama, dan Ejaan 

yang Disempurnakan (EYD). 



Pengertian PUEBI (PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA)

Ejaan adalah keseluruhan peraturan melambangkan bunyi ujaran, pemisahan dan penggabungan kata, penulisan kata, huruf, dan tanda baca. Perkembangan ejaan di Indonesia diawali dengan ejaan Van Ophuijsen. Ejaan van Ophuijsen ditetapkan sebagai ejaan bahasa melayu pada 1901. Ciri khas yang menonjol adalah penggunaan huruf j untuk menuliskan kata-kata jang dan sajang, penggunaan huruf oe untuk menuliskan kata goeroe dan kamoe, serta digunakannya tanda diakritik dan trema pada kata mamoer dan doa.

Sekadar diketahui, perubahan sistem ejaan bahasa Indonesia sudah terjadi beberapa kali. Pada 1947, bahasa Indonesia menggunakan sistem Ejaan Soewandi, kemudian sistem Ejaan Melindo pada 1959, dan EYD (Ejaan yang Disempurnakan) pada 1972 hingga 2015.

Setelah mengalami perkembangan kedudukan Ejaan van Ophuijsen tergantikan oleh Ejaan Soewandi. Ejaan Soewandi atau Republik ditetapkan pada 19 Maret 1947 menggantikan ejaan van ophuijsen. Ciri yang menonjol adalah penggunaan huruf u untuk menggantikan huruf oe, penggunaan bunyi sentak k menggatikan tanda diakritik dan penulisan kata depan di dan awalan di yang sama , yakni dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya.

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan  adalah peraturan bahasa Indonesia yang diberlakukan sejak 1972 pada saat Kongres Bahasa Indonesia sampai saat ini.

Ejaan yang Disempurnakan (EYD) belum lama ini mengalami perubahan menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Perubahan ini dilakukan sebagai dampak meluasnya ranah pemakaian bahasa seiring kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan seni.

Ada tiga hal perubahan yang terjadi pada PUEBI. Perubahan tersebut meliputi penambahan huruf diftong, penggunaan huruf tebal, serta penggunaan huruf kapital.

Huruf diftong yang ditambahkan ke PUEBI adalah ei. Penambahan ini, menurut

Kepala Bidang Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, Drs. Mustakim, M. Hum., terjadi karena bahasa Indonesia banyak menyerap istilah dari bahasa asing, sehingga kini ada empat diftong dalam bahasa Indonesia yakni ai, au, ei, dan oi seperti pada kata survei.

Selain diftong, perubahan juga terjadi pada penggunaan huruf tebal. Penggunaan huruf tebal ini belum diatur pada ejaan bahasa Indonesia sebelumnya. Pada PUEBI, huruf tebal ini dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang ditulis miring serta untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.

Perbedaan PUEBI Perbedaan PUEBI dengan EYD yang terakhir terletak pada huruf kapital. Pada ejaan bahasa Indonesia sebelumnya tidak diatur bahwa unsur julukan ditulis dengan awal huruf kapital. Kini, aturan tersebut terdapat pada PUEBI.

Manfaat dari puebi (pedoman umum ejaan bahasa indonesia)

 Apa manfaat belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)?_Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, tentu mempelajari dengan sungguh-sungguh bahasa Indonesia sangatlah penting untuk dilakukan. Bukti nyata dari seberapa pentingnya mempelajari bahasa Indonesia dapat dilihat dengan diajarkannya pelajaran bahasa Indonesia mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan bahkan diajarkan dalam beberapa perguruan tinggi. Yang lebih mengejutkan lagi, sekarang bahasa Indonesia juga sudah menjadi pelajaran wajib untuk beberapa sekolah di negara-negara lain seperti: Jepang dan Australia.

Sayangnya, tak jarang dalam praktiknya ini bahasa Indonesia diremehkan dan dipandang sebelah mata. Banyak orang yang lebih memilih mengutamakan memberikan pelajaran bahasa asing terhadap anaknya karena berpendapat bahwa bahasa asing lebih berguna bagi kehidupan pada saat ini. Untuk menghilangkan anggapan itu, berikut manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari mempelajari bahasa Indonesia.


Beberapa manfaat dan kegunaaan bahasa Indonesia 

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu Indonesia adalah negara yang sangat luas dan memiliki berbagai macam budaya dan bahasa daerah yang berbeda-beda. Di sinilah fungi dari bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa ini. Kita tidak akan mungkin mempelajari semua bahasa daerah yang ada di Indonesia, tetapi kita dapat mempelajari bahasa Indonesia yang dapat kita gunakan untuk berkomunikasi dengan orang Indonesia yang tersebar dari sabang hingga merauke.

Dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila orang-orang di dalam kota-kota besar seperti Jakarta yang mayoritas merupakan warga pendatang menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing sebagai bahasa komunikasi utama? Tentu keadaan akan kacau dan tidak teratur. Oleh karena itu mempelajari dan memahami penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sangatlah penting untuk dilakukan. Belum lagi dengan berkembangnya teknologi yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di berbagai penjuru Indonesia. Tentu menguasai bahasa Indonesia sangatlah penting untuk membantu dalam hal komunikasi 

Menambah wawasan dan pengetahuan Sebagai bahasa nasional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Indonesia tentu saja merupakan bahasa yang umumnya digunakan media-media penyebar informasi mulai dari media cetak hingga televisi. 

Tentu untuk dapat memahami informasi-informasi yang terdapat dalam media cetak atau televisi tersebut kita harus menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), kalau dulu sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Selain itu, menguasai bahasa Indonesia dengan baik juga sangat berguna pada saat kita ingin menambah pengetahuan dengan membaca buku. Seperti yang kita tahu, saat ini sangatlah jarang buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa-bahasa daerah kecuali buku-buku mengenai kebudayaan itu sendiri. 

Merangsang munculnya ide-ide dan/atau gagasan-gagasan baru Survey membuktikan, mempelajari bahasa dengan baik dan benar khususnya mengenai kekayaan kosa-kata dapat membuat seseorang lebih mudah untuk mendapatkan ide atau gagasan baru atau dalam kata lain, mempelajari bahasa dapat membuat seseorang lebih cerdas. Hal ini dikarenakan apabila seseorang memiliki pengetahuan akan kosa kata dan tata bahasa yang luas maka akan lebih muda dalam mengolah pikiran-pikiran kasar ke dalam ide-ide atau gagasan-gagasan. Pertanyaannya, bagaimanakah cara untuk mempelajari dan memperbanyak kosa-kata dan tata bahasa ini? membaca dan mendengarkan. 

Hanya dengan dua hal ini kemampuan kosa-kata dan tata bahasa dapat diasah dan ditambah. Dengan membiasakan diri membaca atau mendengarkan bahasa Indonesia, secara otomatis kosa-kata dan tata bahasa seseorang dapat bertambah, lebih baik lagi jika ditambah dengan meningkatkan keterampilan menulis. Demikian mengenai betapa pentingnya dan manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari dan menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Semoga bermanfaat.

Komentar